Mengapa Harga Plastik Naik Saat BBM Melonjak? Tinjauan dari Perspektif Kimia 
Ilustrasi Alur Pembentukan Plastik dari Minyak Bumi Melalui Proses Polimerisasi

Belakangan ini, banyak orang mulai merasakan bahwa harga plastik—mulai dari kantong belanja hingga kemasan makanan—ikut naik ketika harga BBM meningkat. Sekilas, keduanya tampak tidak berhubungan. Namun jika dilihat dari sisi kimia, ternyata ada kaitan yang sangat erat (UKM Indonesia, 2026).

Plastik yang kita gunakan sehari-hari sebenarnya berasal dari minyak bumi. Minyak mentah yang diambil dari dalam bumi diolah di kilang menjadi berbagai produk, salah satunya bahan baku petrokimia. Dari proses ini dihasilkan senyawa sederhana seperti etilena, propilena, dan stirena. Senyawa-senyawa kecil ini disebut monomer, yang kemudian dirangkai melalui proses kimia bernama polimerisasi menjadi plastik, seperti polietilena (PE), polipropilena (PP), dan polistirena (PS) (Andrady & Neal, 2009).

Di sisi lain, BBM seperti bensin dan solar juga berasal dari minyak bumi yang sama. Artinya, ketika harga minyak mentah dunia naik, dampaknya tidak hanya terasa pada BBM, tetapi juga menjalar ke bahan baku plastik. Dalam kondisi tertentu, harga bahan baku plastik bahkan dapat melonjak hingga 80–90% (Kontan, 2026).

Tidak hanya bahan baku, proses pembuatan plastik juga membutuhkan energi yang besar. Mesin-mesin industri plastik memerlukan panas dan listrik untuk mengolah bahan menjadi produk jadi. Ketika harga BBM naik, biaya energi biasanya ikut meningkat. Akibatnya, biaya produksi plastik pun semakin tinggi (Hopewell et al., 2009).

Selain itu, ada faktor lain yang sering tidak disadari, yaitu distribusi. Plastik diproduksi di pabrik, lalu didistribusikan ke berbagai daerah menggunakan kendaraan berbahan bakar BBM. Ketika harga BBM naik, ongkos transportasi juga meningkat, dan pada akhirnya harga jual plastik ikut terdorong naik (SumatraKini, 2026).

Jika dirangkai menjadi satu gambaran, kenaikan harga plastik bukan disebabkan oleh satu faktor tunggal, melainkan hasil dari beberapa hal yang saling terkait: bahan baku yang lebih mahal, biaya energi yang meningkat, dan ongkos distribusi yang naik.

Melihat kondisi ini, para peneliti mulai mengembangkan alternatif yang lebih ramah lingkungan dan tidak bergantung pada minyak bumi, seperti bioplastik dari bahan alami (misalnya pati singkong). Meskipun masih menghadapi tantangan dari sisi biaya dan kekuatan material, inovasi ini diharapkan dapat menjadi solusi di masa depan.
 
 
Penulis: Muji Harsini, Departemen Kimia, Fakultas Sains dan Teknologi (FST), Universitas Airlangga